Menempa Sejarah di Atas Bara: Rencong Pase dalam Genggam Ishak Abdullah
Menempa Sejarah di Atas Bara: Rencong Pase dalam Genggam Ishak Abdullah
Penulis: Agus Tia_

Pasee bukan cuma wilayah tetapi juga budaya dan peradaban yang sampai saat ini dilestarikan. Penelusuran menyambangi tempat asal pelestarian Budaya Rencong Pasee di Aceh Utara. Di sebuah tempat pembuatan rencong “Teumpeun” sederhana di Desa Blang, Kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara, Menyusuri jalan berkelok dengan debu yang betebaran pada Minggu siang, kalender menunjukkan tanggal 12 April 2026. Setelah keluar dari kota Lhokseumawe, sekitar 35 menit menelusuri jalan yang ramai panas serta berdebu, kami pun memasuki lokasi pembuatan Rencong Pasee yang berada di kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara.
Setiba kami di lokasi pembuatan rencong itu, kami menemukan rumah panggung yang sudah tua dengan anak-anak yang sedang bermain di bawahnya. Anak-anak tersebut rupanya cucu dari sang pembuat rencong Ishak Abdullah. Dalam kesehariannya Ishak Abdullah dipanggil “Utoeh” karena profesinya sebagai pengrajin Rencong. Setelah kami sampai disana, kami istirahat sejenak sambil menunggu permohonan Nahlil Mukhta Pemuda pelopor Bidang seni Budaya yang menemani perjalan kami kali ini, kepada Utoeh Ishak untuk permohonan izin mewawancarai dan mempraktekkan pembuatan rencong kepada kami.
Setelah mendapatkan izin, Utoeh Ishak keluar dan kami disambut dengan ramah di sela istirahat siang, di ruang kerjanya, Sebuah pondok sederhana beratapkan daun rumbia di halaman rumah. Ishak Abdullah, sosok yang kini dikenal sebagai salah satu maestro pembuat Rencong Pase. Bagi Ishak, rencong bukan sekadar senjata tajam atau hiasan dinding yang
kaku. Di matanya, setiap bilah besi yang ia tempa adalah wujud asli dari identitas, keberanian, dan filosofi hidup masyarakat Aceh.
“Rencong bukan sekedar hiasan tetapi merupakan identitas masayarakat aceh yang menggambarkan keberanian melawan kezaliman.” Tutur Utoh Ishak Abdullah sambil tersenyum, sebelum memulai menggenggam bilah besi rencong.
Utoh Ishak Abdullah dengan raut wajah setenang air, namun dengan tangan sekeras baja mencontohkan cara beliau bergulat dengan api. Di tengah kepulan asap arang, suara denting martil yang menghantam besi panas terdengar ritmis, seolah sedang memainkan melodi dari masa lalu. Di tengah kepulan asap arang,
Berkarya Sambil Bercerita
Ishak Abdullah telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk memastikan bentuk fisik dan nilai spiritual ini tidak luntur ditelan zaman. Rencong Pase memiliki karakteristik yang berbeda dari rencong daerah lain. Bentuknya cenderung lebih besar, gagah, dan memiliki lengkungan yang khas mencerminkan kemegahan era Kesultanan Samudera Pasai.
"Menempa rencong, kiat ahrus menjaga bentuknya agar pesan yang ingin digambarkan jelas dan khas." Cerita Utoeh Ishak sembari menyeka keringat.
Beliau masih mempertahankan teknik manual. Besi dipanaskan hingga merah membara, lalu dipukul berkali-kali dengan presisi tinggi hingga membentuk lekukan yang
sempurna. Tak ada mesin otomatis, hanya intuisi dan otot yang bekerja selaras dengan bara api. Lebih hebatnya lagi, pengamplasan sarung tanduk kerbau dilakukan dengan daun khusus agar lebih alamai dan estetik.
“rencong Pasee ditempa dengan besi berkualitas, dan menggunakan gagang dari tanduk kerbau yang diamplas dengan daun kayu hutan. Cara tersebut menjadikan Rencong yang kita buat tetap asli sesuai dengan tata cara awalnya Rencong di buat.” Tutur Utoh Ishak abdullah.
Nahlil Mukta ikut menceritakan karakter khas Utoeh Ishak Abdullah yang mengedepankan cara tradisonal, dan hal tersebut menjadi daya tarik yang luar biasa. Ciri khas tersebut bahkan menarik minat para pengkoleksi dari luar negeri.
“Utoeh adalah pengarajin yang sangat mengedepankan karakteristik rencong yang khas dan sangat tradisional. Hal tersebut membuat Rencong beliau selalu diburu oleh para pengkoleksi senjata budaya bersejarah bahkan dari luar negeri.” Cerita Pemuda Pelopor Seni Budaya Aceh Utara itu.
Tidak hanya bercerita dan mengenalkan lafaz Bishmillah pada rencong, Utoeh Ishak dan Ustad Nahlil juga mengenalkan kepada kami tentang peta yang bisa dilihat dari rencong. Ujung pada rencong yang menggambarkan wilayah barat & Aceh Utara seperti Kota Sabang, Aceh Besar, Pidie, Lhokseumawe, Langsa, Aceh Utara dan Aceh Timur. Perut Rencong melambangkan sebagai wilayah pesisir tengah seperti Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, Bireun, dan Aceh Selatan. Selanjutnya pada bagian yang terakhir atau gagang rencong ini yang melambangkan wilayah tengah dan tenggara Aceh. Wilyah yang ada di dalamnya seperti Aceh Tengah (Takengon), Subusalam, Bener Meuriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
Sisi Ekonomi Pengrajin Rencong
Ketika membahan masalah ekonomi, maka kesan pertama yang muncul ialah rasa syukur, karena bagi Utoeh Ishak rencong bukan cuma tentang uang tapi juga tentang hobi yang menjadi pekerjaan.
“Kalau bicara tentang ekonomi, alhamdulillah cukup untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari, rencongmemang biaya pembuatannya lebih besar dari pisau dapur biasa, tetapi juga memakan waktu yang lama. Hal tersebut yag membuat pengahsilannya cukup. Terlebih
sekarang Nahlil membantu mencarikan bahan, menyediakan modal dan mebantu memasarkan Rencong buatan tangan saya.” Kata Pengrajin Rencong Pasee tersebut, sambil menyeruput kopi di tangannya.
Rencong telah menjadi bagian dari kehidupan Utoh ishak selama puluhan tahun, bahkan saat ini ananda beliau ikut menjadi penempa Rencong di Sipang kandang Kota Lhokseumawe. Bisa dibilang rencong menjadi bagia yang menyatu dalam kehidupan keluarga Ishak Abdullah. sebagai penutup kunjungan beliau menyempatkan memberikan motivasi kepada anak muda agar terus menyiapkan bekal berupa ilmu dan jangan lupakan identitas kita dan dari mana kita berasal.
“Rencong menjadi pemasukan keluarga saya, bahkan sekarang, anak saya menjadi penempa Rencong sembari menjadi guru ngaji di Simang Kandang Lhokseumawe. Rencong memberikan kami kehidupan. Kita sudah sepatutnya mencari ilmu seluas-luasnya tetapi jangan lupa bahwa kita punya identitas. Salah satunya dalam wujud rencong yang meambangkan karakter masyarakat Aceh.” Tutup Ishak Abdullah dalam pertemuan yang berlangsung 2 jam tersebut. Kami pada akhirnya berpamitan, dan Utoeh melepas kami dengan senyuman.







